Diposkan pada Farmakologi, Kuliah

Obat Analgetika, Antipiretik dan Antiinflamasi

Obat-obatan analgetika dikelompokkan menjadi 2

  1. Analgetika opioid
  2. NSAID/Non Steroidal Antiinflamatory Drugs Steroidal (OAINS/Obat Antiinflamasi Non Antiinflamasi Non Steroid)

 

ANALGETIKA OPIOID

Karakteristik analgetika opioid:

  • Mengurangi nyeri dan menimbulkan euforia dengan berikatan pada reseptor opioid di otak, yaitu reseptor pada reseptor opioid di otak, yaitu reseptor µ (mu), κ (kappa), dan d (delta)
  • Enkefalin dan endorfin berikatan dengan reseptor µ dan d
  • Dinorfin berikatan dengan reseptor κ

Obat analgetik opioid:

morfin, metadon, meperidin (petidin), fentanil, buprenorfin, dezosin, butorfanol, nalbufin, nalorfin, dan pentazosin

  • Morfin dan derivatnya :
    Efek analgetik yaitu dengan mengurangi persepsi nyeri di otak  (meningkatkan ambang nyeri), mengurangi respon psikologis terhadap nyeri (menimbulkan euforia), danmenyebabkanmengantuk/tidur (efek sedatif) walau ada nyeri.Diberikan secara per oral, injeksi IM, IV, SC, dan rektal, durasinya rata-rata 4-6 jam.Diindikasikan untuk nyeri berat yang tak bisa dikurangi dengan analgetika non opioidatau obat analgetik opioid lain yang lebih lemah efeknya.
    Contoh : Morfin, Heroin, Hidromorfon, Oksimorfon, Levorfanol, Levalorfan, Kodein, Hidrokodon, Oksikodon, Nalorfin, Nalokson, Nalbufin, Te`bain
  • Meperidin dan derifat fenilpiperidin :
    Menimbulkan efek analgetik, efek euforia, efek sedatif, efek depresi nafas dan efek samping lain seperti morfin, kecuali konstipasi.Efek analgetiknya muncul lebih cepat daripada morfin, tetapi durasi kerjanya lebih singkat hanya 2-4 jam. Diindikasikan untuk obat praoperatif pada waktu anestesi.
    Contoh : Meperidin, Alfaprodin, Difenoksilat, Fentanil, Loperami
  • Metadon Dan Opioid lain:
    Mempunyai efek analgetik mirip morfin, tetapi tidak begitu menimbulkan efek sedatif. Diberikan secara per oral, injeksi IM,  dan SC. Dieliminasi dari tubuh lebih lambat dari morfin (waktu paruhnya 25 jam) dan gejalawithdrawalnya tak sehebat morfin, tetapi terjadi dalam jangka waktu lebihlama. Diindikasikan untuk analgetik pada nyeri hebat, dan juga digunakan untuk mengobati ketergantungan heroin.
    Contoh : Metadon, Propoksifen, Dekstromoramida, Bezitramida
  • Fentanil
    Merupakan opioid sintetik dengan efek analgetik 80 kali lebih kuat dari morfin, tetapi depresi nafas lebih jarang terjadi. Diberikan secara injeksi IV, dengan waktu paruh hanya 4 jam dan dapat digunakan sebagai obat praoperatif saat anestesi.
  • Obat Antagonis Opioid :
    Naltrekson, Nalorfin, Levalorfan, Siklazosin, Pentazosin, Butorfanol

 

NSAID (Non Steroidal Anti-Inflammatory Drugs)

 

Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah “non steroid” digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa.NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika.

Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2).Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang).

NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid), golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan oksametasin), golongan profen/asam 2-arilpropionat (diantaranya ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac), golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat), golongan turunan pirazolidin(diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon), golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam), golongan penghambat COX-2 (celecoxib, lumiracoxib), golongan sulfonanilida (nimesulide), serta golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).

Penggunaan NSAID yaitu untuk penanganan kondisi akut dan kronis dimana terdapat kehadiran rasa nyeri dan radang.Walaupun demikian berbagai penelitian sedang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan obat-obatan ini dapat digunakan untuk penanganan penyakit lainnya seperti colorectal cancer, dan penyakit kardiovaskular.

Secara umum, NSAID diindikasikan untuk merawat gejala penyakit berikut: rheumatoid arthritis, osteoarthritis, encok akut, nyeri haid, migrain dan sakit kepala, nyeri setelah operasi, nyeri ringan hingga sedang pada luka jaringan, demam, ileus, dan renal colic.

Sebagian besar NSAID adalah asam lemah, dengan pKa 3-5, diserap baik pada lambung dan usus halus.NSAID juga terikat dengan baik pada protein plasma (lebih dari 95%), pada umumnya dengan albumin.Hal ini menyebabkan volume distribusinya bergantung pada volume plasma. NSAID termetabolisme di hati oleh proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat metabolit yang tidak aktif, dan dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu.

NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan dispepsia) serta efek samping pada ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi). Efek samping ini tergantung pada dosis yang digunakan.

Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman digunakan oleh wanita hamil, namun harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan hati

Obat golongan Antiinflamasi non Steroid

  • Turunan asam salisilat : aspirin, salisilamid,diflunisal.
    Aspirin adalah agen antiinflamasi yang tertua, merupakan penghambat prostaglandin yang menurunkan proses inflamasi dan dahulu merupakan agen antiinflamasi yang paling sering dipakai sebalum adanya ibuprofen. Aspirin yang denga dosis tinggi untuk inflamasi menyebabkan rasa tidak enak pada lambung.Pada situasi seperti ini, biasanya digunakan tablet enteric-coated. Aspirin tidak boleh dipakai bersama-sama dengan NSAIA/NSAID karena menurunkan kadar NSAIA/NSAID dalam darah dan efektifitasnya. Aspirin juga dianggap sebagai obat antiplatelet untuk klien dengan gangguan jantung atau pembuluh darah otak.
  • Turunan paraaminofenol : Paracetamol
    Parasetamol (asetaminofen) seringkali dikelompokkan sebagai NSAID, walaupun sebenarnya parasetamol tidak tergolong jenis obat-obatan ini, dan juga tidak pula memiliki khasiat anti nyeri yang nyata.Merupakan penghambat prostaglandin yang lemah.Parasetamol mempunyai efek analgetik dan antipiretik, tetapi kemampuan antiinflamasinya sangat lemah. Intoksikasi akut parasetamol adalah N-asetilsistein, yang harus diberikan dalam 24 jam sejak intake parasetamol.
  • Turunan 5-pirazolidindion : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
    Kelompok derivat pirazolon tinggi berikatan dengan protein. Fenilbutazon (butazolidin) berikatan 96% dengan protein. Telah dipakai bertahun-tahun untuk obat artritis rematoid dan gout akut.Obat ini mempunyai waktu paruh 50-65 jam sehingga sering timbul reaksi yang merugikan dan akumulasi obat dapat terjadi.Iritasi lambung terjadi pada 10-45% klien. Agen lain: oksifenbutazon (tandearil), aminopirin (dipirin), dipiron (feverall), jarang dipakai kerena reaksi yang ditimbulkannya karena terjadi toksisitas. Reaksi yang paling merugikan dan berbahaya dari kelompok ini adalah diskrasia darah, seperti agranulositosis dan anmeia aplastik. Fenilbutazon hanya boleh dipakai untuk obat artritis dengan keadaan NSAIA/NSAID yang berat dimana NSAIA/NSAID lainnya yang kurang toksik telah digunakan tanpa hasil
  • Turunan asam N-antranilat : Asam mefenamat, Asam flufenamat
    Untuk keadaan artritis akut dan kronik.Dapat mengiritasi lambung.Klien dengan riwayat tukak peptik jangan menggunakan obat ini. Efek lain: edema, pusing, tinnitus, pruritus. Fenamanat lain: meklofenamanat sodium monohidrat (meclomen), dan asam mefenamat (ponstel).
  • Turunan asam arilasetat/asam propionat : Naproksen, Ibuprofen, Ketoprofen
    Kelompok ini lebih relatif baru.Obat-obat ini seperti aspirin, tetapi mempunyai efek yang lebih kuat dan lebih sedikit timbul iritasi gastrointestinal—tidak seperti pada aspirin, indometacin, dan fenilbutazon.Diskrasia darah tidak sering terjadi. Agen ini yaitu: fenoprofen kalsium (nalfon), naproksen (naprosyn), suprofen (suprol), ketoprofen (orudis), dan flurbiprofen (ansaid).
    Farmakokinetik ibuprofen: diabsorpsi dngan baik melalui saluran gastrointestinal. Obat-obatan ini mempunyai waktu paruh singkat tetapi tinggi berikatan dengan protein. Jika dipakai bersama-sama obat lain yang tinggi juga berikatan dengan protein, dapat terjadi efek samping berat. Obat ini dimetabolisme dan dieksresi sebagai metabolit inaktif di urin.
    Farmakodinamik ibuprofen: menghambat sintesis prostaglandin sehingga efektif dalam meredakan inflamasi dan nyeri. Perlu waktu beberapa hari agar efek antiinflamasinya terlihat.Juga dapat menambah efek koumarin, sulfonamid, banyak dari falosporin, dan fenitoin.Dapat terjadi hipoglikemia jika ibuprofen dipakai bersama insulin atau obat hipoglikemik oral.Juga berisiko terjadi toksisitas jika dipakai bersama-sama penghambat kalsium.
  • Turunan oksikam : Peroksikam, Tenoksikam, Meloksikam.
    Piroksikam/feldene adalah NSAIA/NSAID baru.Indikasinya untuk artritis yang lama seperti rematoid dan osteoartritis.Keuntungan utama, waktu paruh panjang sehingga mungkin dipakai satu kali sehari. Menimbulkan masalah lambung seperti tukak dan rasa tidak enak pada epigastrium, tetapi jarang daripada NSAIA/NSAID lain. Oksikam juga tinggi berikatan dengan protein.
  • Asam Paraklorobenzoat/asam asetat indol
    NSAIA/NSAID yang mula-mula diperkenalkan adalah indometacin/indocin, yang digunakan untuk obat rematik, gout, dan osteoartritis.Merupakan penghambat prostaglandin yang kuat. Obat ini berikatan dengan protein 90% dan mengambil alih obat lain yang berikatan dengan protein sehingga dapat menimbullkan toksisitas. Indometacin mempunyai waktu paruh sedang (4-11 jam).Indocin sangat mengiritasi lambung dan harus dimakan sewaktu makan atau bersama-sama makanan. Derivat asam paraklorobenzoat yang lain adalah sulindak (clinoril) dan tolmetin (tolectin), yang dapat menimbulkan penurunan reaksi yang merugikan daripada indometacin. Tolmetin tidak begitu tinggi berikatan dengan protein seperti indometacin dan sulindak dan mempunyai waktu paruh yang singkat.Kelompok NSAIA/NSAID ini dapat menurunkan tekanan darah dan menyebabkan retensi natrium dan air.
  • Turunan asam fenilasetat : Natrium diklofenak
    Diklofenak sodium (voltaren), adalah NSAIA/NSAID terbaru yang mempunyai waktu paruh plasmanya 8-12 jam. Efek analgesik dan antiinflamasinya serupa dengan aspirin, tetapi efek antipiretiknya minimal atau tidak sama sekali ada. Indikasi untuk artritis rematoid, osteoartritis, dan ankilosing spondilitis. Reaksi sama seperti obat-obat NSAIA/NSAID lain. Agen lain: ketorelak/toradol adalah agen antiinflamasi pertama yang mempunyai khasiat analgesik yang lebih kuat daripada yang lain. Dianjurkan untuk nyeri jangka pendek. Untuk nyeri pascabedah, telah terbukti khasiat analgesiknya sama atau lebih dibanding analgesik opioid.

Referensi:

http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/nsaid.htm (diakses pada tanggal 28 Maret 2012 pukul 23.12)

http://www.farmasiku.com/index.php?target=categories&category_id=171&page=10(diakses pada tanggal 28 Maret 2012 pukul 23.12)

dan sumber lain

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maaidah : 90)

 

Diposkan pada Kuliah

IMUNOLOGI..

CHILDREN ALLERGY CENTER

Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.

Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu.

Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif  atau imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan pertahanan tubuh non spesifik adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus…

Lihat pos aslinya 2.486 kata lagi

Diposkan pada Farmakologi, Kuliah

“Super” Istilah

Tugas dari Bu Elin..

Superinfeksi adalah terinfeksinya kembali inang oleh jenis parasit yang sebelumnya sudah pernah menyerangnya atau infeksi ulang oleh virus yang sama

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Literatur lain mendefinisikan antibiotik sebagai substansi yang bahkan di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan fungi. Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua:

1.   Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri.

2.   Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri

Resistensi adalah ketahanan mikroba terhadap antibiotik tertentu. Resistensi alamiah adalah jika beberapa mikroba tidak peka terhadap antibiotik tertentu karena sifat mikroba secara alamiah tidak dapat diganggu oleh antibiotik tersebut. Resistensi kromosomal terjadi karena mutasi spontan pada gen kromosom. Resistensi kromosomal dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan primer, mutasi terjadi sebelum pengobatan dengan antibiotik dan selama pengobatan terjadi seleksi bibit yang resisten. Dan golongan sekunder, mutasi terjadi selama kontak dengan antibiotik kemudian terjadi seleksi bibit yang resistensi. Resistensi silang dapat terjadi dengan cara transformasi yaitu pelepasan DNA dari sel donor yang mengalami lisis pindah ke sel penerima, cara transduksi yaitu pemindahan gen yang resisten dengan bantuan bakteriofag dan cara konjugasi yaitu pemindahan gen karena adanya kontak sel dengan sel dan terbentuk jembatan plasma. Resistensi ekstra kromosomal, yang berperan adalah faktor R yang terdapat diluar kromosom yaitu didalam sitoplasma. Faktor R ini diketahui membawakan resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotik. Bakteri dikatakan resisten bila pertumbuhannya tidak dapat dihambat oleh kadar maksimum antibiotik yang dapat ditoleransi oleh tubuh.

Kemoterapi adalah cara pengobatan dengan menggunakan bahan / alat kimia yang akan menyebabkan kerusakan atau kematian sel kanker. Obat – obat kimia tersebut dikenal sebagai sitostatika.  Tujuannya adalah membasmi seluruh sel kanker sampai ke akar-akarnya, sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel kanker agar tidak menyebar lebih luas.

Ada beberapa cara pemberian kemoterapi:

  • Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan kemoterapi oral semacam ini adalah: bisa dilakukan di rumah.
  • Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.
  • Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang terlatih).

Eradikasi (pembasmian) adalah upaya menghilangkan penyakit sampai tidak ada lagi. Suatu penyakit infeksi dikatakan dapat dieradikasi apabila memiliki syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah adanya intervensi yang efektif yang dapat untuk menghentikan transmisi dari agen, adanya alat diagnostik yang cukup sensitif dan spesifik untuk mendeteksi infeksi yang dapat menyebabkan transmisi dan tidak adanya reservoir selain manusia. Apabila syarat-syarat ini dipenuhi maka suatu penyakit dikatakan. sebagai secara teknik dapat dieradikasi.

Infeksi adalah proses invasive oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam tubuh yang menyebabkan sakit, khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme, kompetitif, toksin, replikasi intraseluler, atau reaksi antigen-antibodi.

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.

Efek sinergistik adalah situasi dimana efek gabungan dari dua bahan kimia jauh melampaui penjumlahan dari tiap-tipa bahan kimia bila diberikan secara sendiri-sendiri.

Permisalan , 2+3=10
Contoh :
CCl4 (Karbon tetrakorida)dan C2H5OH (etanol) yang keduanya adalah senyawa hepatotoksik bila secara bersamaan diberikan akan menghasilkan kerusakan hati yang jauh lebih berat daripada jumlah masing-masing efek secara individual

Efek aditif adalah suatu situasi dimana efek gabungan dari dua bahan kima sama dengan jumlah dari efek masing-masing bahan bila diberikan sendiri-sendiri.

Permisalan , 2+3=5
Contoh :
Bila dua insektisida organofosfat diberikan secara bersama, hambatan terhadap Cholinesterase biasanya aditif.

Zat aditif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidupdapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulitdihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapatmemberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa

Potensiasi adalah keadaan dimana suatu senyawa kimia tidak mempunyai efek toksik terhadap system atau organ tertentu, tapi bila ditambahkan ke dalam bahan kima lain akan membuat bahan tersebut menjadi jauh lebih toksik.

Permisalan, 0+2=10
Contoh: Iso propanoltidak bersifat hepatotoksik tetapi bila zat tersebut diberikan di samping pemberian CCl4, efek hepatotoksik dari CCl4 akan menjadi jauh lebih besar dibandingkan bila diberikan secara sendiri.

Toksisitas selektif adalah antibiotik yang berbahaya bagi parasit namun tidak berbahaya bagi inangnya. Toksisitas selektif terjadi karena obat-obatan antibiotik mengganggu proses atau struktur bakterial yang tidak ada pada sel mamalia. Sebagai contoh, beberapa agen antibiotik bekerja pada sintesis dinding sel bakteri, dan yang lainnya mengganggu fungsi ribosom 70 S pada bakteri tapi tidak pada  ribosom eukariotik 80 S.

Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan desinfektan, yaitu antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati

Antibodi (bahasa Inggris: antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan struktur tertentu yang disekresi dari limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut.

Dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid dengan kondisi di bawah ini:

  • Pada kasus pembawa kuman (carrier),
  • Pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau
  • Pada kasus-kasus dengan depresi imunologik

Secara klasik selalu dianjurkan bahwa kombinasi antibiotik bakterisid dan bakteriostatik akan merugikan oleh karena antibiotik bakterisid bekerja pada kuman yang sedang tumbuh, sehingga kombinasi dengan jenis bakteriostatik akan memperlemah efek bakterisidnya. Tetapi konsep ini mungkin tidak bisa begitu saja diterapkan secara luas dalam klinik, oleh karena beberapa kombinasi yang dianjurkan dalam klinik misalnya penisilin (bakterisid) dan kloramfenikol (bakteriostatik) justru merupakan alternatif pengobatan pilihan untuk meningitis bakterial yang umumnya disebabkan oleh kuman Neisseria meningitidis, Haemophilus influenza.

Diposkan pada Tarbiyah

Jama’aaaaah..

Bernegara Sebagaimana Shalat Berjama’ah

Hubungan jama’ah da’wah dan kekuasaan

oleh Untung Wahono, kontributor Majalah Hidayatullah

Apakah jama’ah da’wah harus berkuasa atas suatu pemerintahan? Apakah ada dasarnya bagi pemikiran itu? Pertanyaan yang sangat “sensitif” di zaman ini memang seringkali memunculkan beragam jawaban. Tetapi jika dengan teliti ditelusuri langkah-langkah perjuangan da’wah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka pertanyaan ini dengan mudah dapat terjawab.

Negara dan da’wah tak dapat dipisah-pisahkan. Kenyataan menunjukkan ayat-ayat Al-Quran yang turun pada periode Makkiyah banyak memberikan gambaran bahwa institusi negara memiliki andil dalam menghambat da’wah seperti Fir’aun dan kekuasaannya maupun menunjang da’wah seperti Sulaiman ‘Alaihis salaam dan kekuasaannya.

Gambaran ayat Al-Quran tersebut diturunkan kepada Rasulullah Saw dan pengikutnya yang tengah berjuang mengusung syari’at Islam. Bahkan Surat Ar-Rum menceritakan kekalahan negeri Romawi itu dari Persia dan berita kemenangan yang akan terjadi pada kerajaan pimpinan Heraklius itu.

Sikap kegembiraan kaum Muslimin ketika terjadi hantaman balik Romawi atas Persia menggambarkan, da’wah Islam berdimensi bangsa-bangsa dan negara-negara. Pembicaraan Rasulullah Saw dengan kabilah-kabilah di Thaif dalam rangka menjajagi basis wilayah atas gerakan da’wah juga mencerminkan adanya perhitungan kekuasaan dalam pengembangan syari’at Islam.

Tatkala Abu Abdullah Khabab Radhiallaahu ‘anhu mengeluhkan penderitaan kaum Muslimin kepada Rasulullah Saw di sisi Ka’bah, beliau menasehatinya seraya menggambarkan masa depan da’wah: “….. Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama Islam) ini hingga meluaslah kedamaian di dunia. Orang akan merasa aman bepergian dari Yaman ke Hadramaut, tiada rasa takut kecuali kepada kemarahan Allah atau serigala yang dikhawatirkan menerkam dombanya. Namun kalian bersikap terburu-buru.” (HR Bukhari)

Sejarah membuktikan, apa yang dimaksud dari meluasnya kedamaian dari Yaman hingga ke Hadramaut tak lain adalah kekuasaan negara kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah Saw dan para pengikutnya yang berlangsung selama berabad-abad lamanya. Visi Rasulullah Saw menghimpun manusia di sekitar dirinya dalam mengabdi kepada Allah Swt jelas memiliki pola-pola yang jelas dan sistematik. Kehidupan bersama (jama’ah) adalah kewajiban dan kekuatan jama’ah yang kemudian mewujud dalam bentuk tatanan sebuah negara adalah sebuah keniscayaan dari buah dan perkembangan da’wah itu sendiri.

 

Urgensi jama’ah dalam kekuasaan

Abdullah bin ‘Umar pernah menyaksikan Umar bin Khattab Ra, ayahnya, tatkala menjadi Amirul Mu’minin berpidato di tengah-tengah manusia. Di antara pesan-pesannya adalah: “…Kewajiban atas kamu berjama’ah, dan hatilah-hatilah atas sikap memisahkan diri karena syaitan itu beserta orang yang sendiri dan dia adalah yang keduanya. Barangsiapa yang menghendaki surga terbaik maka komitmenlah dengan jama’ah …” (HR Turmudzi no 2091, Ahmad no 109 dan Ibn Majah no 2354. Turmudzi mengatakan ini hadits hasan shahih)

Umar bin Khattab Ra sebagai pemimpin dari wilayah yang membentang dari Persia hingga ke Mesir melihat betapa kekuatan jama’ah merupakan kekuatan utama kehidupan bermasyarakat dan bernegara dari kaum muslimin. Oleh karena itu beliau merasa perlu menyerukan pesan kepada kaum Muslimin untuk tetap setia kepada kehidupan kolektif di atas jalan Allah ini. Tidak berpecah-belah atau memisahkan diri darinya.

Meskipun sangat penting, sesungguhnya pesan Umar bukanlah pesan baru karena Rasulullah Saw telah menyatakan hal yang senada sebelumnya.

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Rasulullah Saw berdiri diantara kami dan bersabda: “Demi Allah, tiada Tuhan selainnya, tiada halal darah seorang Muslim yang menyatakan aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali pada beberapa orang. Mereka yang meninggalkan Islam, mereka yang memisahkan diri dari jama’ah, suami atau isteri pezina dan (hukum balas) jiwa dengan jiwa.” (HR Muslim, no 3176).

Mengapa sistem kehidupan jama’ah begitu penting dalam kepemimpinan ummat dan negara, banyak sekali aspek penyebabnya. Kondisi yang ideal adalah tiada seorang pimpinan pun melepaskan diri dari kehidupan jama’ah ketika memerintah dan dalam waktu yang sama tiada seorang rakyat pun yang juga melepaskan diri dari jama’ah. Dalam kenyataan –dengan berbagai derajat keterlepasannya– kehidupan jama’ah yang solid memang sukar untuk diwujudkan, apalagi ketika mereka tengah berada di puncak kekuasaan. Banyak godaan dan fitnah yang menyebabkan terjadinya penyempalan-penyempalan.

Sistem kejama’ahan memiliki keunggulan sebagai sebuah pilihan kerangka kepemimpinan masyarakat. Ia adalah sistem berdasarkan nilai-nilai yang disucikan. Dalam salah satu pidatonya Umar berkata: “… Tiada Islam keculai dengan jama’ah, tiada jama’ah kecuali dengan imarah (kepemimpinan), dan tiada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Barangsiapa menjadikan seseorang sebagai pemimpin kaumnya berdasarkan pemahaman (fiqih) maka berarti kehidupan bagi dirinya dan kaumnya. Barangsiapa menjadikan seseorang sebagai pemimpin kaumnya tanpa pemahaman (fiqih) maka berarti kebinasaan bagi dirinya dan kaumnya.” (HR Ad Darimy no 253, rawi-rawinya tsiqah).

Dari pidato Umar bin Khattab RA jelas makna jama’ah dalam Islam adalah makna yang sakral karena menandakan kehidupan kolektif di atas landasan dan cita-cita Islam (fiqih). Islam menjadi barometer kehidupan kolektif seperti kebenaran, kesetiaan, saling menasihati, soliditas, konsolidasi, pengembanan amanah dan tanggungjawab.

Kehidupan berjama’ah berpusat kepada nilai-nilai dan bukan kepada sosok-sosok. Keunikan sistem jama’ah ini memiliki konskuensi khusus dalam pemahaman kaum Muslimin dalam persoalan pemeliharaannya ketika menghadapi kendala-kendala.

 

Kerapuhan jama’ah dan dampaknya

Memang tak dapat dipungkiri, sebagaimana pidato Umar, bahwa terpisahnya seseorang dari kehidupan berjama’ah akan menyebabkan bencana baik yang bersifat individual maupun kolektif. Ketika seseorang anggota jama’ah menyempal dari kehidupan kolektifnya (faraqal jama’ah) maka dampak yang paling ringan adalah dalam da’wah ia tidak mungkin mampu mengusung cita-cita besar untuk mengatasi masalah-masalah besar.

Cita-cita besar hanya dapat diwujudkan melalui kehidupan kolektif sebagaimana Rasulullah Saw yang terus-menerus melakukan rekrutmen dalam kehidupan da’wahnya. Sedangkan dampak yang paling buruk menyeberangnya ia ke dalam sistem kolektif musuh yang sudah pasti berjuang untuk kepentingan hawa nafsu. Mungkin tidak sampai murtad atau berpindah agama, tetapi segala kegiatannya lebih banyak menguntungkan atau memperkuat barisan musuh Islam.

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang anggota jama’ah (rakyat) melarikan diri dari kehidupan kolektif biasanya adalah ketidakmampuan menahan penderitaan duniawi, perasaan kecewa atas perlakuan tidak adil, kalah dalam persaingan atas posisi-posisi duniawi, perbedaan pendapat bahkan sampai dengan kejenuhan atas rutinitas kehidupan berjama’ah yang dijalaninya.

Faktor-faktor ini pasti diketahui dan ditangkap oleh musuh-musuh untuk melakukan tindakan-tindakan yang sebesar-besarnya merugikan da’wah Islam.

Apa dampaknya jika yang terjadi adalah seorang pemimpin menyempal dari kehidupan berjama’ah? Sangat fatal, karena ia pasti akan menjadi seorang diktaktor yang lahir dari sebuah sistem nilai dan kolektivitas kebaikan. Inilah fenomena yang sering terjadi dalam sistem kekuasaan manusia, termasuk dalam jama’ah kaum Muslimin di pentas khilafah, sebagaimana disampaikan dalam teori-teori kekuasaan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya.

Kediktaktoran pemimpin yang menyempal dari jama’ah kadarnya beragam, dari kediktaktoran kekeluargaan sampai dengan kediktaktoran tunggal (otoritarianisme).

Rasulullah Saw sangat memberi perhatian pada persoalan pemimpin ini. Seoalnya, terlepasnya seorang pemimpin dari kerangka jama’ah tentu berbeda dampaknya dibandingkan terlepasnya seorang anggota biasa pengikut jama’ah. Bahkan beliau memberikan pengarahan dalam masalah ini dimulai dari kepemimpinan dalam shalat.

Pada suatu hari seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: “Ya, Rasulullah aku mundur dari jama’ah shalat shubuh karena imam terlalu lama membacakan surat Al-Quran.” ‘Uqbah bin Amir yang meriwayatkan hadits ini menyatakan, ia tak pernah melihat Rasulullah Saw marah sehebat marah dalam nasihatnya ketika itu.

Sabda beliau: “Hai masyarakat dunia, selalu saja kalian mempersulit. Barangsiapa yang menjadi imam hendaklah ia memendekkan bacaannya karena di belakang terdapat orangtua, anak-anak kecil dan orang-orang yang memiliki keperluan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Penguasa yang hanya mementingkan diri sendiri –meskipun dalam kebaikan yang dipahaminya seperti dalam kasus shalat berjama’ah di atas– dianggap akan berpotensi memporak-porandakan barisan jama’ah. Karena itu tingkat empati penguasa terhadap jama’ahnya akan menentukan seberapa efektipnya suatu jama’ah mampu memegang sebuah amanah kekuasaan. Rasulullah Saw bersabda: “Tiada seorang penguasa/pemimpin (amir) yang mengatur urusan ummat Islam lalu tidak bersungguh-sungguh mengaturnya dan tidak memperhatikan keperluan (hajat) mereka kecuali tiada ke surga bersama mereka.” (HR Muslim)

 

Menjaga keutuhan

Kasus pemimpin yang menyempal memang bukan masalah sederhana karena ia pemegang posisi penting dalam kehidupan berjama’ah. Kejadiannya sendiri bersifat manusiawi. Bukan mustahil seorang pemimpin suatu saat memperlihatkan keteladannya dan pada saat yang lain –karena godaan kekuasaan– terpeleset dalam keburukan.

Namun dalam kaca mata Islam, kehidupan nilai-nilai jama’ah tidak dapat diukur dari keberadaan seseorang dengan sisi baiknya ataupun sisi buruknya. Sistem tidak boleh dihancurkan dengan alasan memperbaiki sebagian kecil komponen yang bermasalah.

Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Abbas: “Barangsiapa yang melihat dari ‘amir(penguasa/pemimpin)nya sesuatu yang dibencinya maka bersabarlah atasnya karena sesungguhnya tiada seorang pun yang memisahkan diri dari jama’ah meski sejengkal kemudian mati kecuali mati dengan kematian jahiliyah.” (HR Bukhary, no 6531)

Hadits ini mengarahkan anggota jama’ah tidak boleh lari meninggalkan jama’ah hanya lantaran pemimpinnya menyeleweng atau menyempal dari jama’ah. Jika hal itu dilakukan maka hancurlah sistem karena semua komponennya telah pergi meninggalkannya.

Sebaliknya, tidak lari dari jama’ah bukan berarti menghilangkan sikap kritis dan pasrah terhadap ancaman kerapuhannya karena Rasulullah Saw bersabda: “Seorang Muslim wajib tunduk taat kepada pemerintahnya baik dalam hal yang disenangi dan dibenci, kecuali jika disuruh berbuat maksiat. Jika pemerintah menyuruh hal demikian maka tiada kewajiban mendengar dan taat kepadanya.” (HR Bukhary dan Muslim)

Dalam hadits lain diriwayatkan seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: “Jihad apa yang paling utama?”

Jawab Rasulullah Saw: “(Menyampaikan) pernyataan kebenaran di hadapan penguasa (sulthan) yang menyeleweng.” (HR An-Nasaai no 4138 dan Ahmad no 18.076, rawi-rawinya tsiqah. Dalam HR Abu Daud ditambahkan atau ‘amirun jaair)

Dengan sikap ini diharapkan keseimbangan situasi dalam menjaga eksistensi jama’ah dalam kekuasaan pemerintahan akan terus terjadi.

 

Sumber : isi fd orang
filename asli :  Bernegara Sebagaimana Shalat Berjamaah

Diposkan pada Tarbiyah

Hijab untuk Berhijab?

Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab

Oleh : Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly

MUQADDIMAH

“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwannnya. ” (Asy Syams: 7-8 )

Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan  atau jalan kejahatan. Allah memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasihat di antara kita dan  menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian.

Sebagaimana disebutkan dalam surat Al ‘Ashr, Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasihati.

Beliau bersabda: “Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya ” (Diriwayatkan  oleh Thabrani dalam “Al Autsah” dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shah Jami’ush Shaghir, hadits no. 6531)

Dengan kata lain, seorang mukmin bisa menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain. Sehingga ia laksana cermin bagi dirinya. Tetapi cermin ini tidak memantulkan gambar secara fisik  melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga –sebagaimana dalam banyak hadits-menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari  kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masukSurga dan dijauhkan dari Neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus berupaya keras dan  maksimal urituk menyediakan berbagai sarana yang menjauhkan saudaramu dari  hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat.

Hal-hal di atas itulah yang melatar belakangi buku sederhana ini kami hadirkan. Selain itu, kecintaan dan rasa kasih sayang kami kepada  segenap remaja puteri di seluruh dunia Islam. Tentu, juga keinginan kami untuk menjauhkan mereka dari bahaya dan kerugian di dunia maupun di akhirat.

Lebih khusus, buku ini kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah  yang belum mentaati perintah berhijab (‘Hijab: Maksudnya, busana wanita  muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki,  hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu. (lihat him.66 )  seperti  yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena  takluk di hadapan nafsu yang senantiasa memerintahkan keburukan atau tunduk  oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan  bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan lain.

Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini  menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur,  sehingga bisa mengembalikan segenap akhawat yang belum mentaati perintah  ber-hijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala.

SYUBHAT DAN SYAHWAT

Setan bisa masuk kepada manusia melalui dua pintu utama, yaitu syubhat da syahwat. Seseorang tidak melakukan suatu tindak maksiat kecuali dari  dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang  muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk Surga dan jauh dari Neraka. Di bawah ini akan kita uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.

A. SYUBHAT PERTAMA : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL

Syubhat ini menyatakan, gejolak nafsu seksual pada setiap manusia  adalah sangat besar dan membahayakan.

Ironinya, bahaya itu timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan  dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bisa mengakibatkan ledakan dahsyat.

Hijab wanita akan menyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda  tetap berada dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak,  bahkan terkadang tak tertahankan sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya.

Sebagai pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah  membebaskan wanita dari mengenakan hijab, agar para pemuda mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan nafsu mereka yang senantiasa bergolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka sedikit bisa terpenuhi. Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan.

 1. Bantahan

Sepintas, syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan  argumentatif.

Kelihatannya, sejak awal, pihak yang melemparkan jalan pemecahan  tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi masyarakat dan menghindarkan mereka darikehancuran. Padahal kenyataannya, mereka justru menyebabkan bahaya yang  jau lebih besar bagi masyarakat, yaitu menyebabkan tercerai-berainya  masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai seratus delapan puluh derajat  pada kebinasaan.

Seandainya jalan pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu Amerika  dan Negara-negara Eropa serta Negara-negara yang berkiblat kepada mereka  akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan kekerasannya  terhadap kaum wanita di dunia, juga dalam kasus-kasus kejahatan yang lain.

Amerika dan negara-negara Eropa amat memperhatikan masalah ini, dengan alasan kebebasan individual.

Di sana, dengan mudah anda akan mendapatkan berbagai majalah porno  dijual di sembarang tempat. Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua  belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan  hasrat seksual. Bila musim panas tiba, banyak wanita di sana membuka pakaiannya dan hanya mengenakan pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka  berjemur di pinggir pantai atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian  besar pantai dan pesisir, mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai  penutup ala kadarnya. Terminal-terminal video rental bertebaran di seluruh  pelosok Amerika dengan semboyan “Adults Only” (khusus untuk orang dewasa). Di terminal-terminal ini, anak-anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Siap saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset  video lalu memutarnya di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan.

Rumah-rumah bordil bertaburan di mana-mana. Bahkan di sebagian negara, memajang para wanita tuna susila (pelacur) di etalase sehingga bisa  dilihat oleh peminatnya dari luar.

Apa kesudahan dari hidup yang serba boleh (permisif) itu? Apakah kasus perkosaan semakin berkurang? Apakah kepuasan mereka terpenuhi,  sebagaimana yang ramai mereka bicarakan? Apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?

2. Data Statistik Amerika

Dalam sebuah buku berjudul “Crime in U.S.A” terbitan Pemerintah Federal  di Amerika –yang ini berarti data statistiknya bisa dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah, tidak oleh paguyuban  sensus– di halaman 6 dari buku ini ditulis: “Setiap kasus perkosaan yang ada  selalu dilakukan dengan cara kekerasan dan  itu terjadi di Amerika setiap enam menit sekali. ”   Data ini adalah yang tejadi pada tahun 1988, yang  dimaksud dengan kekerasan di sini adalah dengan menggunakan senjata tajam.

Dalam buku yang sama juga disebutkan:

  1. Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak 147,389  kasus perkosaan.
  2. Pada tahun 1979 di Amerika tejadi sebanyak 168,134 kasus perkosaan.
  3. Pada tahun 1981 di Amerika tejadi sebanyak 189.045 kasus perkosaan.
  4. Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak  211.691 kasus perkosaan.

2.Tafsir Empiris Ayat Al-Quran

Data statistik ini, juga data-data sejenis lainnya – yang dinukil dari sumber sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan– menunjukkan  semakin melonjaknya tingkat pelecehan seksual di negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan penafsiran empiris (secara nyata dan dalam  praktik kehidupan sehari-hari) dari firman Allah:
“Hai Nabi, katakanIah kepada isteri isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah  untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …..”(Al Ahzab: 59 )

Sebab turunnya ayat ini, — sebagaimana yang disebutkan oleh Imam  Qurthubi dalam tafsirnya-karena para wanita biasa melakukan buang air besar di  padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan  tertutup). Di antara mereka itu dapat dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bisa dikenali yakni kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu, para pemuda enggan mengganggunya.

Sebelum turunnya ayat ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang  hajat di padang terbuka tersebut. Sebagian orang-orang dujana mengira kalau dia adalah budak, ketika diganggu, wanita muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , sehingga turunlah ayat ini.

Hal ini menegaskan, wanita yang memamerkan auratnya, mempertontonkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya kepada setiap orang yang lain lalang, lebih berpotensi untuk diganggu. Sebab dengan begitu, ia telah  membangkitkan nafsu seksual yang terpendam.

Adapun wanita yang ber-hijab maka dia senantiasa menyembunyikan  kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak  tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak  boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain matanya saja.

Syahwat apa saja yang bisa dibangkitkan oleh wanita ber-hijab itu?  Instink seksual apa yang bisa digerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu?

Allah mensyari’atkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari  gangguan orang lain. Sebab Allah Subhanahu Wata’ala mengetahui, pamer aurat akan mengakibatkan semakin bertambahnya kasus pelecehan seksual, karena  perbuatan tersebut membangkitkan nafsu seksual yang sebelumnya tenang.

Kepada orang yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bisa menelanjangi kesalahan mereka melalui empat  hakikat:  Pertama, berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.

Kedua, hasrat seksual terdapat pada masing-masing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang dititipkan Allah pada keduanya untuk  hikmah yang amat banyak, diantaranya demi kelangsungan keturunan. jika boleh berandai-andai, andaikata hasrat seksual itu tidak ada, apakah  keturunan manusia masih bisa dipertahankan? Tak seorang pun memungkiri keberadaan hasrat dan naluri ini. Tetapi, dengan tidak mempertimbangkan adanya  naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki diminta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang. Amat ironi memang.

Ketiga, yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia  melihat kecantikan wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), sehingga bisa memadamkan gejolak syahwat-nya tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya.

Keempat, orang yang mengaku bisa mendiagnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan mata kepada wanita cantik dan telanjang  sehingga nafsunya akan terpuaskan (dan dengan demikian tidak menjurus pada  perbuatan yang lebih jauh, misalnya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya),  maka yang ada hanya  dua kemungkinan:  PERTAMA, orang itu adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan syahwat yang bagaimana pun (bentuk dan jenisnya), ia termasuk kelompok orang yang dikebiri kelaminnya sehingga dengan cara apa pun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya. KEDUA, laki-laki yang lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan  itu tak akan mempengaruhi dirinya.

Apakah orang-orang yang membenarkan syubhat tersebut (sehingga  dijadikannya jalan pemecahan) hendak memasukkan kaum laki-laki dari umat kita ke  dalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di atas? Na’udzubillah min dzalik.

*Sumber : flashdisk orang,
file name: Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab (10)

Diposkan pada Kuliah

Syukurilah apa yang ada pada dirimu 😀

Kampus Peduli [K-Ped]

Laa Yukallifullahu nafsan illa wus’aha..
Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia kecuali mereka mampu menanggungnya…

Anugerah, bocah kecil dengan facial cleft kompleks dan pertumbuhan tulang abnormal ini adalah bocah yang dpilih Allah untuk menerima ketidak sempurnaan tubuhnya. Jika bisa memilih, tentu mereka tidak menginginkan kekurangan ini. Dengan berbagai kondisi memprihatinkan ini, ia membutuhkan banyak tahapan operasi yang dibantu oleh dokter-dokter dari berbagai spesialisasi. Jangankan membayar operasi dengan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, mengedipkan mata kanannya secara spontan saja Anugerah tak mampu.

Keluarga anugerah, apalagi abah dan ambunya yang meskipun sudah berusia lanjut tetap menemani dan mengupayakan berbagai cara untuk mengobati cucu pertama mereka. Kini anugerah sedang menjalani perawatan dan pengobatan berkala untuk mempersiapkan proses rencana operasinya. Namun, seperti selalu, lagi-lagi biaya yang menjadi kendalanya.

Selain Anugerah, ada Zamzam dengan celah antara bibir dan langit-langit mulutnya. Belum lagi Zamzam terlahir dengan lubang dubur yang sangat kecil, sehingga tim…

Lihat pos aslinya 133 kata lagi

Diposkan pada Kuliah

Duh, Jaga Hijab Doong..

“Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???,” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?,” tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

“Duh… ngeri, lihat itu… ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat……,” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.

“Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” tanya seorang akhwat penuh keheranan.

Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:

1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.

2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.

3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.

4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.

Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah panggilan persaudaraan. ‘Ikhwan’ artinya adalah saudara laki-laki, dan ‘akhwat’ adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikhotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-‘ikhwanan’-nya atau ke-‘akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.

Aktivis sekuler tak lagi segan

Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, ”Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi.”

Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat

Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi, dan jangan sampai meningkat pada tahap berpacaran:

  1. Pulang Berdua
    Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.
  2. Rapat Berhadap-Hadapan
    Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya – bila belum mampu menggunakan hijab – dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.
  3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
    Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
  4. Duduk/ Jalan Berduaan
    Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
  5. “Men-tek” Untuk Menikah
    “Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-tek’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangat riskan.
  6. Telfon Tidak Urgen
    Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
  7.  SMS Tidak Urgen
    Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.
  8. Berbicara Mendayu-Dayu
    “Deuu si akhiii, antum bisa aja deh…..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.
  9. Bahasa Yang Akrab
    Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
  10.  Curhat
    “Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, akh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.
  11. Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
    YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.
  12. Bercanda ikhwan-akhwat
    “Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Dalil untuk nomor 1-5:

a. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)

b. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 30)

c. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 31)

d. Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

e. Rasulullah saw. Bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu.”(HR Ahmad)

Dalil untuk nomor 6-12:

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya…” (Al Ahzab: 32)

Penutup

Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32). Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah… “

By: AW, Jundullah (Aamiin) -> dari file punya orang